Penyebab Aksi Bom di MAN 3 Padang
Psikolog dari Universitas 'Aisyiyah (UNISA), Ratna Yunita Setiyani Subardjo S.Psi, M.Psi, Ph.D, memberikan penjelasan mengenai aksi bom yang dilakukan oleh seorang siswa MAN 3 Padang. Menurutnya, tindakan tersebut bukan muncul secara mendadak, melainkan dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor psikologis, sosial, dan lingkungan.
Faktor Psikologis, Sosial, dan Lingkungan
Ratna menekankan bahwa perilaku agresi ekstrem seperti dalam kasus ini tidak terjadi begitu saja. Ia menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang saling berkaitan:
-
Faktor Individual
Pada usia remaja, yaitu sekitar 15 hingga 18 tahun, seseorang sedang mencari identitas diri. Dalam teori Erik Erikson, masa ini disebut sebagai tahap Identity vs Role Confusion. Jika kebutuhan untuk dihargai dan diakui tidak terpenuhi, remaja bisa merasa tidak berharga dan kemudian berkembang menjadi kemarahan. Selain itu, teori Frustrasi-Agresi dari Dollard dan Miller juga menjelaskan bahwa frustrasi yang tidak dapat diselesaikan dengan cara sehat dapat berubah menjadi perilaku agresif. -
Lingkungan Sosial
Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura menyatakan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan. Jika lingkungan penuh dengan penghinaan dan kekerasan, anak bisa belajar bahwa menyakiti orang lain adalah cara agar dirinya didengar. Selain itu, Teori Strain dari Robert Agnew menunjukkan bahwa ketika tujuan penting seperti diterima atau dihargai oleh teman sebaya terus terhambat, tekanan psikologis bisa berkembang menjadi perilaku menyimpang. -
Akses Informasi Berbahaya
Remaja yang merasa tidak memiliki tempat bercerita dan mudah mengakses informasi berbahaya tanpa pendampingan berisiko mengalami penguatan ide negatif, baik untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Hubungan antara Bullying dan Perilaku Agresif
Bullying dan pengucilan sosial memiliki hubungan kuat dengan munculnya perilaku agresif. Ratna menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk diterima (need to belong). Ketika seseorang terus-menerus di-bully atau dikucilkan, otak merespons seperti rasa sakit fisik. Area anterior cingulate cortex di otak aktif saat seseorang mengalami penolakan sosial, sehingga rasa sakit akibat dikucilkan nyata.
Jika kondisi ini berlangsung lama, seseorang bisa mengalami social pain, yang memicu kemarahan, keputusasaan, hingga keinginan untuk membalas dendam. Ratna juga menyoroti teori labeling, yakni ketika seseorang terus-menerus mendapat cap negatif, seperti "aneh" atau "tidak berguna", label tersebut bisa diinternalisasi menjadi bagian dari identitas dirinya. Hal ini bisa memicu self-fulfilling prophecy, yaitu keyakinan bahwa "kalau aku memang dianggap sampah, ya sudah aku lakukan hal yang dianggap seperti itu."
Dari sisi psikologi trauma, bullying kronis bisa berkembang menjadi trauma relasional. Dampaknya bisa berupa hipervigilance, sulit mempercayai orang lain, atau menyimpan kemarahan yang terus dipendam. Jika tidak ada orang dewasa yang mengakui atau memvalidasi rasa sakit tersebut, kemarahan bisa berubah menjadi energi besar yang tak lagi bisa ditahan, hingga akhirnya muncul aksi nekat seperti meledakkan bom.
Tanggung Jawab Pelaku
Meski Ratna menjelaskan penyebab psikologis dari tindakan pelaku, ia menegaskan bahwa penjelasan ini bukan untuk membenarkan tindakan tersebut. "Kita perlu berempati terhadap penderitaan atau luka batin yang dialami seseorang. Namun, empati tidak berarti menghapus tanggung jawab." Ia menambahkan bahwa apa pun latar belakangnya, tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain tetap harus dipertanggungjawabkan.

